Featured image of post Tak Banyak yang Tahu, Pantai Indah Ini Menyimpan Sejarah Tambang Emas Belanda

Tak Banyak yang Tahu, Pantai Indah Ini Menyimpan Sejarah Tambang Emas Belanda

Minahasa Tenggara - Pantai Lakban, Desa Ratatotok Timur, Kecamatan Ratatotok, Kabupaten Minahasa Tenggara dikenal sebagai salah satu destinasi wisata pantai sangat instagramable di Sulawesi Utara.Pantai ini cuk...

Minahasa Tenggara -

Pantai Lakban, Desa Ratatotok Timur, Kecamatan Ratatotok, Kabupaten Minahasa Tenggara dikenal sebagai salah satu destinasi wisata pantai sangat instagramable di Sulawesi Utara.

Pantai ini cukup landai dan datar jika dibandingkan dengan pantai pada umumnya, daerah landainya lebar sehingga memungkinkan traveler untuk berolahraga misalnya voli.

Pantai Lakban menawarkan hamparan pasir putih di sepanjang garis pantainya, air lautnya sangat jernih dan tenang, tak berombak, bahkan ketenangan dari arus lautnya sehingga disebut sebagai lokasi wisata laut paling aman.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di Pantai Lakban juga terdapat tinggalan sejarah berupa mesin penghancur bijih peninggalan Belanda. Mesin ini dipindahkan dari lokasi tambang ke pantai Lakban oleh PT Newmont Minahasa Raya (NMR).

Sejarahnya, Belanda pernah mendatangkan 20 mesin penumbuk bijih buatan Inggris pada tahun 1900, dari pantai ke lokasi tambang diangkut dengan menggunakan lori (alat angkut rel). Selanjutnya pada 1910, mesin penumbuk bijih ditambah menjadi 60 penumbuk bijih.

Pantai Lakban, Desa Ratatotok Timur, Kecamatan Ratatotok, Kabupaten Minahasa Tenggara dikenal sebagai salah satu destinasi wisata pantai sangat instagramable di Sulawesi Utara.Pantai Lakban, Desa Ratatotok Timur, Kecamatan Ratatotok, Kabupaten Minahasa Tenggara dikenal sebagai salah satu destinasi wisata pantai sangat instagramable di Sulawesi Utara. Foto: Hari Suroto

Tambang emas ini kerap disebut sebagai Maskapai Belanda, tercatat total produksi 5.060 kg emas yang ditambang di antara tahun 1900 dan 1921.

Sebelumnya banyak masyarakat yang melakukan kegiatan pertambangan di sekitar gunung dan pinggiran sungai, dengan adanya perusahaan Maskapai Belanda tersebut terjadi perubahan sistem dari pemilik tambang menjadi pekerja, dengan berakhirnya pertambangan tersebut banyak masyarakat yang berpindah pemukiman dari kawasan pegunungan sekitar tambang menuju ke daerah pantai yang lebih rendah.

Dengan perpindahan masyarakat tersebut memunculkan desa yang kemudian disebut Ratatotok, Rata berarti datar/landai, Totok artinya daerah sekitar mereka melakukan pertambangan.

Untuk menuju Pantai Lakban, traveler dapat menempuh perjalanan mobil sekitar 4 hingga 5 jam dari Kota Manado. Pantai Lakban telah dilengkapi beberapa fasilitas tempat parkir, warung makan, toilet dan gazebo. Tiket masuk ke pantai ini yaitu, Rp 3.000 per orang atau per sepeda motor dan Rp 5.000 untuk mobil.

----

Hari Suroto

Penulis bekerja di Balai Pelestarian Kebudayaan Sulawesi Utara

(ddn/ddn)

Dibangun dengan
Tema Stack dirancang oleh Jimmy