Featured image of post Ketimpangan Kinerja Perbankan Berpotensi Masih Berlanjut di Kuartal III-2026

Ketimpangan Kinerja Perbankan Berpotensi Masih Berlanjut di Kuartal III-2026

ILUSTRASI. Tren kinerja perbankan yang tak seragam antara sektor swasta dan bank milik negara (Himbara) diperkirakan masih bakal berlanjut. (KONTAN/Cheppy A. Muchlis) Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Khomarul...

ILUSTRASI. Tren kinerja perbankan yang tak seragam antara sektor swasta dan bank milik negara (Himbara) diperkirakan masih bakal berlanjut. (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)

Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Khomarul Hidayat

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Tren kinerja perbankan yang tak seragam antara sektor swasta dan bank milik negara (Himbara) diperkirakan masih bakal berlanjut. 

Hingga bulan kelima tahun ini, Himbara kompak mencatatkan pertumbuhan kinerja yang apik. Di sisi lain, bank-bank swasta nampak tumbuh lebih lambat. 

Lihat saja, sementara Bank Mandiri menumbuhkan laba 18,64% secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi Rp 23,31 triliun.Laba Bank Rakyat Indonesia (BRI) tumbuh 9,52% yoy menjadi Rp 20,42 triliun, dan laba Bank Negara Indonesia (BNI) naik 7,06% yoy menjadi Rp 9,05 triliun.

Sementara, laba Bank Central Asia (BCA) cuma mampu tumbuh 2,07% yoy menjadi Rp 25,68 triliun. 

Baca Juga: Bank Memburu Pendapatan Komisi dari Penjualan ORI030

Kinerja kredit pun begitu. Pertumbuhan tertinggi diraih oleh BNI sebesar 24,55% yoy menjadi Rp 940,88 triliun, menyusul Bank Mandiri 20,56% yoy menjadi Rp 1.578,94 triliun, BRI 12,23% yoy menjadi Rp 1.427,19 triliun. Sementara kredt BCA hanya tumbuh 4,85% yoy menjadi Rp 969,09 triliun. 

Sebagai tambahan informasi, bank swasta lainnya pun tak beda jauh nasibnya. 

CIMB Niaga labanya turun 1,06% yoy menjadi Rp 2,71 triliun per Mei 2026 dan kreditnya tumbuh 8,62% yoy menjadi 175,08 triliun. Maybank Indonesia labanya anjlok 48,06% yoy menjadi Rp 255,87 miliar dan kreditnya tumbuh tipis 0,06% yoy menjadi Rp 79,26 triliun. Lalu dan Permata Bank labanya turun 4,27% yoy menjadi Rp 1,18 triliun dengan kredit yang naik 6,87% yoy menjadi Rp 143,37 triliun. 

Secara umum, Kepala Riset KISI Muhammad Wafi menilai kinerja perbankan sejauh ini sudah mencerminkan hasil semester I-2026. Namun, ada sejumlah hal yang perlu menjadi perhatian. 

Meski kinerjanya moncer, Wafi bilang ada hal penting di balik angka-angka pertumbuhan Himbara, yakni soal kualitas kredit. Ia menyoroti beban provisi BNI yang naik hingga 30% yoy, yang artinya agresivitas pertumbuhan kredit rupanya beriringan dengan masifnya pencadangan.

“Kualitas laba bersih lebih rendah dari angka yang terlihat di laporan,” ujar Wafi kepada Kontan, Jumat (10/7/2026). 

Wafi juga menyoroti risiko kredit ke Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) yang menurutnya belum banyak diperhitungkan. 

Padahal, mengingat kredit ini disalurkan dengan skema revolving, bank perlu menyediakan likuiditas sebesar 100% dari total plafon pinjaman. Wafi menyebut ini sebagai “biaya likuiditas tersembunyi” karena kemungkinan baru akan terasa pada semester II nanti, khususnya pada Himbara dengan eksposur kredit KDMP yang lebih besar.

Di sisi lain, bank swasta justru terlihat lebih defensif. BCA misalnya, justru menurunkan pencadangan 13,62% yoy sambil menumbuhkan pendapatan komisi. Di tengah era suku bunga tinggi dan risiko kredit macet yang meningkat di semester II nanti, Wafi bilang strategi quality over growth ini bakal lebih dihargai di pasar jangka panjang. 

Baca Juga: Bank KBMI 2 Incar Naik Kelas ke KBMI 3, Butuh Modal Jumbo

Wafi melihat divergensi kinerja Himbara dan bank swasta masih bakal berlanjut, setidaknya sampai kuartal III-2026. “Selama program pemerintah masih jadi credit engine,” katanya. Hanya saja, ada potensi keadaan berbalik jika kredit macet KDMP mulai naik atau suku bunga acuan justru turun dan memberikan angin segar bagi bank swasta dengan basis dana murah besar. 

Senada, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta juga memprediksi tren kinerja antarbank untuk jangka pendek ke depan masih serupa capaian saat ini. Kunci perubahan arahnya ada pada siklus ekonomi dan arah kebijakan moneter bank sentral. 

“Apabila likuiditas mulai membaik, biaya dana menurun, serta Bank Indonesia kembali melanjutkan siklus pelonggaran kebijakan moneter, kesenjangan pertumbuhan dengan bank swasta dapat mulai menyempit,” jelas Nafan. 

Di luar itu, Nafan bilang sebenarnya masih tersisa ruang bagi bank swasta untuk menggenjot kredit. Menurutnya segmen kredit konsumsi, kredit korporasi yang terkait hilirisasi, infrastruktur, pusat data, manufaktur, kesehatan, serta pembiayaan rantai pasok masih menawarkan ruang pertumbuhan. 

Selain itu, transformasi digital juga membantu meningkatkan efisiensi operasional sehingga profitabilitas tetap terjaga.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




Dibangun dengan
Tema Stack dirancang oleh Jimmy