Sabtu, 11 Juli 2026 - 19:01 WIB
Jakarta, VIVA – Anggota Komisi VI DPR RI Christiany Eugenia Paruntu menilai defisit neraca perdagangan Indonesia pada Mei 2026 perlu menjadi momentum evaluasi untuk memperkuat daya saing ekspor nasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor, khususnya pada sektor minyak dan gas (migas). Menurutnya, kondisi tersebut harus direspons dengan langkah-langkah strategis agar tren surplus neraca perdagangan dapat kembali terjaga dalam jangka menengah dan panjang.
Baca Juga
Christiany mengatakan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), defisit neraca perdagangan pada Mei 2026 terutama dipengaruhi oleh defisit neraca perdagangan migas yang masih cukup besar.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Di sisi lain, sektor nonmigas masih mampu mencatatkan surplus, sehingga menunjukkan bahwa fondasi ekspor nasional sebenarnya masih memiliki daya tahan yang perlu terus diperkuat.
Baca Juga
"Defisit ini perlu kita lihat secara objektif. Penyebab utamanya berasal dari tingginya defisit sektor migas, sementara sektor nonmigas masih mampu memberikan surplus. Artinya, tantangan terbesar yang harus dijawab adalah bagaimana memperkuat daya saing ekspor sekaligus menekan ketergantungan terhadap impor energi," ujar Christiany dalam keterangan tertulisnya, Sabtu, 11 Juli 2026
Menurutnya, pemerintah perlu mendorong percepatan hilirisasi industri agar ekspor Indonesia semakin didominasi produk bernilai tambah tinggi, bukan hanya komoditas mentah. Selain itu, diversifikasi pasar ekspor juga harus terus diperluas sehingga pelaku usaha nasional tidak terlalu bergantung pada pasar-pasar tradisional yang saat ini tengah menghadapi perlambatan ekonomi global.
Baca Juga
Christiany juga menekankan pentingnya memperkuat daya saing industri nasional melalui peningkatan produktivitas, efisiensi logistik, kemudahan perizinan, serta optimalisasi pembiayaan ekspor bagi pelaku usaha, khususnya UMKM yang telah memiliki potensi menembus pasar internasional. Menurutnya, sinergi antar kementerian, lembaga, BUMN, dan dunia usaha menjadi faktor penting agar ekspor Indonesia dapat tumbuh lebih berkelanjutan.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
"Langkah yang perlu terus digenjot adalah memperkuat hilirisasi, memperluas akses pasar ekspor, meningkatkan efisiensi rantai pasok, serta memberikan dukungan yang lebih kuat kepada eksportir nasional. Dengan demikian, produk Indonesia akan semakin kompetitif di pasar global dan memiliki nilai tambah yang lebih tinggi," jelasnya.
Lebih lanjut, Christiany mengingatkan bahwa keberlanjutan surplus neraca perdagangan tidak hanya bergantung pada kenaikan ekspor, tetapi juga pada kemampuan pemerintah menjaga keseimbangan antara kebutuhan impor produktif dengan peningkatan kapasitas produksi dalam negeri. Oleh karena itu, penguatan ketahanan energi, peningkatan investasi di sektor manufaktur berorientasi ekspor, serta pengembangan industri substitusi impor perlu menjadi perhatian bersama.
Halaman Selanjutnya
"Momentum ini harus menjadi bahan evaluasi agar Indonesia memiliki struktur perdagangan yang semakin kuat dan tangguh terhadap dinamika ekonomi global. Dengan memperkuat industri dalam negeri, meningkatkan nilai tambah ekspor, dan mengurangi ketergantungan pada impor migas, saya optimistis neraca perdagangan Indonesia dapat kembali berada pada jalur surplus dan memberikan kontribusi positif bagi pertumbuhan ekonomi nasional," tutur Christiany.